Hari ini, 10 Februari 2026, blog ini genap berusia 16 tahun.
Rasanya baru kemarin—tepatnya November 2009—saya membuat blog sederhana ini dengan nama "GIS dan Remote Sensing".
Saat itu, saya baru saja resign dari sebuah konsultan kehutanan dan baru pulang menyelesaikan proyek freelance HCV (High Conservation Value). Di tengah masa transisi itu, daripada menganggur, saya memutuskan untuk mengisi waktu luang dengan menulis.
Niat awalnya sangat sederhana: cuma sekadar berbagi catatan. Saya menulis hal-hal dasar seperti: "Aplikasi GIS dalam Pengelolaan SDA", "Tahapan Analisis Citra Digital", hingga "Pengenalan GIS untuk Pemula".
Tidak ada ekspektasi muluk-muluk. Saya cuma berpikir, "Mungkin ada satu atau dua mahasiswa yang butuh tulisan ini."
Tapi ternyata, responnya di luar dugaan. Catatan-catatan sederhana itu mulai dibaca, dikomentari, dan dijadikan referensi.
Lahirnya Nama "Galerigis" (Januari 2010)
Memasuki Januari 2010, sebuah ide liar muncul di kepala saya. Saya melihat tumpukan data GIS yang saya kumpulkan selama bekerja. "Sayang kalau data ini cuma ngendon di harddisk," pikir saya. "Kenapa nggak saya jual aja?"
Saat itulah saya mulai mencari cara membuat toko online khusus data spasial. Tantangannya? Saya buta soal web programming. Tapi bermodal nekat, saya belajar framework OpenCart secara otodidak.
Setelah berjibaku dengan kode-kode error dan begadang berbulan-bulan, akhirnya web toko online itu jadi. Saya memberinya nama: Galerigis.
Kenapa Galerigis? Sederhana. Saya ingin web itu jadi "Galeri"-nya data GIS. Tempat orang bisa melihat, memilih, dan mendapatkan data spasial dengan mudah.
Siapa sangka, nama yang saya pilih secara spontan 16 tahun lalu itu, kini bertransformasi menjadi Galerigis Pro—sebuah software desktop yang membantu ribuan surveyor di seluruh Indonesia.
Dan tanpa saya sadari, blog sederhana inilah titik nol dari semua perjalanan panjang itu.
2011-2014: Era "SEO Organik" & Email Kejutan dari Google
Kalau diingat-ingat lagi, periode 2011 sampai 2014 adalah masa-masa yang "ajaib".
Waktu itu, istilah Digital Marketing belum sekeren sekarang. Belum ada tuh yang namanya bakar uang buat Facebook Ads atau joget-joget di TikTok buat cari trafik.
Modal saya saat itu cuma satu: Ketekunan memahami Google (SEO).
Saya cuma berpikir sederhana: "Kalau ada orang ngetik 'Jual Peta Administrasi' di Google, web saya harus muncul paling atas." Saya bedah algoritma Google secara otodidak. Saya rapikan struktur website OpenCart saya.
Hasilnya?
Jujur, saat itu tidak ada ekspektasi muluk-muluk. Saya sadar, jualan data spasial tidak mungkin laris manis layaknya jualan gorengan di pasar. Ini produk niche.
Namun, setahun setelah Galerigis mengudara, pola unik mulai terbentuk. Memang, orderan tidak masuk setiap hari. Sepi? Sering. Tapi sekalinya ada notifikasi email masuk, nilainya sering bikin saya kaget.
Yang datang bukan pembeli eceran, tapi klien-klien serius yang butuh data dalam skala besar. Jumlah transaksinya sedikit, tapi "daging" semua.
Momen "Validasi" di Tahun 2012
Di antara ribuan email orderan yang masuk, ada satu email di tahun 2012 yang sampai hari ini tidak bisa saya lupakan.
Saat saya buka inbox, ada email masuk dari seseorang dengan domain pengirim @google.com.
Awalnya saya kira spam atau phishing.
Tapi setelah dibaca, ternyata itu resmi dari tim Google Indonesia.
Singkat cerita, Google Indonesia memutuskan untuk membeli data Peta Administrasi Indonesia dari Galerigis.
Rasanya campur aduk. Bangga, kaget, sekaligus lega. Bayangkan, Google—raksasa teknologi yang punya Google Maps—membeli data spasial dari sebuah website sederhana yang dikelola sendirian dari kamar tidur.
Momen itulah yang menjadi titik balik mental saya. Saya sadar: "Oke, Galerigis bukan sekadar blog iseng atau toko online sampingan. Kualitas data di sini sudah diakui level enterprise."
Ini bukan lagi soal jualan data, ini soal kepercayaan.
___________________________________________________________________________________
Bagian 2015-2022 (Fase "Nyebur")
Rezeki dari Resi Pengiriman Buku
Di sinilah seninya hidup. Kadang peluang besar datang dari pintu yang tak terduga.
Siapa sangka, salah satu pembeli buku saya—yang awalnya cuma transaksi jual-beli biasa—justru menjadi gerbang pembuka karir saya sebagai developer.
Beliau tiba-tiba melempar pertanyaan via chat: "Mas Handy masih ngerjain WebGIS?"
Dengan sedikit ragu—tapi sadar butuh peluang—saya jawab: "Masih."
Saat itu, asumsi saya sederhana.
Jujur, saat itu asumsi saya terlalu sederhana. Saya pikir beliau minta dibuatkan WebGIS statis. Bekal saya waktu itu murni hasil belajar otodidak: mengutak-atik HTML, CSS, dan JavaScript dasar. Di bayangan saya: "Ah, ini pasti cuma menampilkan peta diam (statis) di browser. Gampang lah."
Ternyata Saya "Kejeblos"
Ternyata saya salah besar. Setelah deal dan terlanjur "nyebur", barulah ketahuan kalau kebutuhan beliau adalah WebGIS dinamis. Kompleksitasnya jauh di luar kemampuan koding saya saat itu.
Kolaborasi Penyelamat
Mundur bukan pilihan, tapi maju sendirian jelas mustahil dengan skill pas-pasan saya saat itu.
Beruntungnya, klien tidak membiarkan saya "tenggelam" sendirian. Saya digabungkan ke dalam satu tim dengan developer internal mereka. Skenarionya berubah jadi kolaborasi.
Pembagian tugasnya jelas: saya fokus "berjibaku" mengurus tampilan peta statis (frontend)—satu-satunya hal yang saya kuasai—sementara rekan satu tim saya inilah yang mengurus logika dinamis dan backend yang rumit.
Enam bulan kami komunikasi intens. Revisi sana-sini, diskusi alot, sampai begadang. Alhamdulillah, proyek yang awalnya bikin saya deg-degan setengah mati itu akhirnya selesai.
Sejak saat itulah, kepercayaan beliau terkunci. Dari satu proyek "salah duga" itu, saya terus dipercaya menjadi bagian dari tim pengembangan WebGIS beliau sampai bertahun-tahun kemudian.
2023: Jadi "Anker" Bogor-Jakarta & Jembatan Alibaba
Tahun 2023 mengubah ritme hidup saya 180 derajat.
Saya resmi bergabung dengan barisan "Pejuang KRL" Bogor-Jakarta. Setiap pagi berdesakan di stasiun, menembus jarak puluhan kilometer demi tantangan baru di ibukota sebagai Product Manager.
Di peran baru ini, tangan saya "bersih" dari koding. Saya tidak lagi menulis baris kode, tapi tanggung jawabnya justru lebih berat.
Saya berperan sebagai "Jembatan Teknis". Tugas saya adalah menerjemahkan keinginan abstrak rekan-rekan kantor menjadi spesifikasi teknis yang detail, logis, dan bisa dieksekusi oleh tim developer mitra kami dari Alibaba China.
Di sinilah pengalaman "berdarah-darah" saya saat belajar coding otodidak dulu terbayar lunas. Saya bisa bicara "bahasa developer". Komunikasi lintas negara yang biasanya rawan miskomunikasi, bisa saya kawal hingga sistem tersebut rampung sepenuhnya di awal 2026.
Vakum Sejenak & Panggilan yang Kembali (2024)
Konsekuensi dari rutinitas "pergi gelap, pulang gelap" ini cukup besar: saya harus memutus sementara komunikasi dengan dunia freelance, termasuk dengan klien WebGIS setia saya tadi. Tahun 2023 benar-benar saya habiskan untuk adaptasi kerja kantoran.
Namun, rezeki yang baik tidak akan pernah tertukar. Setahun kemudian, tepatnya di 2024, notifikasi dari klien lama itu muncul lagi.
Beliau menghubungi saya, bukan untuk menuntut waktu penuh seperti dulu, tapi mengajak kolaborasi kembali. "Mas, kita butuh WebGIS lagi. Bisa bantu?"
Meskipun waktu saya sekarang sangat terbatas karena harus membagi waktu dengan pekerjaan di Jakarta, kami sepakat untuk tetap jalan dengan ritme yang lebih santai. Buat saya, ini bukan sekadar proyek tambahan. Ini adalah bukti bahwa dalam bisnis, kepercayaan (trust) adalah mata uang yang paling berharga. Sekali kita kerja benar, klien akan setia menunggu.
_______________________________________________________________________
2025-Sekarang: The Power of Kepepet & Teman Curhat Bernama AI
Di tengah rutinitas Jakarta yang padat, tiba-tiba hidup menyodorkan sebuah tantangan finansial baru.
Saya ingat betul momen itu. Ada satu kebutuhan mendesak yang mewajibkan saya mengumpulkan dana segar—targetnya spesifik: Rp 30 juta dalam waktu 6 bulan.
Otak saya berputar keras. Mau cari proyek freelance? Waktu sudah habis di jalan. Mau minta naik gaji? Belum waktunya. Satu-satunya jalan adalah: Membangun Produk Sendiri.
Tapi masalahnya, saya Product Manager, bukan Hardcore Programmer. Saya tahu apa yang harus dibuat, tapi tangan saya tidak cukup cepat untuk menulis ribuan baris kode sendirian di sela-sela kesibukan kantor.
Kolaborasi dengan "Partner" Tak Kasat Mata
Di titik "kepepet" itulah saya menemukan partner baru. Bukan manusia, bukan tim Alibaba, melainkan Kecerdasan Buatan (AI).
Malam-malam panjang sepulang kerja saya habiskan untuk "curhat" dengan AI. Bukan sekadar minta kode, kami berdiskusi layaknya Co-Founder. Saya memberikan logika bisnis dan alur surveyor lapangan, AI menerjemahkannya menjadi baris kode yang efisien.
Dari diskusi intens (dan kadang debat) dengan AI itulah, lahir solusi yang selama ini dicari oleh ribuan surveyor: Galerigis Pro.
Sebuah software desktop yang lahir dari keterbatasan waktu dan desakan target, namun didesain dengan presisi untuk menjawab masalah nyata: ringan, cepat, dan bisa diandalkan tanpa koneksi internet.
Ternyata benar kata orang: "The Power of Kepepet"—jika digabungkan dengan teknologi yang tepat—bisa melahirkan inovasi yang tak terduga.
_______________________________________________________________________
Kenapa Saya Menceritakan Ini Semua?
Bukan untuk mengenang masa lalu. Tapi saya ingin teman-teman tahu: di balik kode program Galerigis Pro, ada "nyawa" dari interaksi kita selama 16 tahun ini.
Setiap email "Mas, skripsi saya error" yang masuk di tahun 2010. Setiap pertanyaan "Mas, kok SHP saya lari ke Afrika?". Hingga setiap laporan bug (yang kadang bikin saya pusing tujuh keliling 😅).
Semua itu dicatat, diingat, dan dirakit menjadi apa yang sekarang bernama Galerigis Pro. Software ini adalah jawaban kolektif untuk ribuan email teman-teman semua.
Terima Kasih untuk 16 Tahun Ini
Tanpa pembaca setia blog ini, mungkin saya sudah berhenti menulis di tahun 2011. Tanpa kepercayaan dari user awal yang berani mencoba software buatan solo founder otodidak, Galerigis tidak akan pernah hidup.
Terima kasih sudah menemani perjalanan saya—dari mahasiswa kehutanan yang bingung pakai ArcGIS, sampai menjadi "Pejuang KRL" yang nekat membangun startup di sela-sela jam kerja.
Blog ini akan tetap ada. Kolom komentar, email, dan WhatsApp saya selalu terbuka untuk diskusi, entah soal GIS atau sekadar sapaan hangat.
Happy mapping! 🗺️
— Handy Founder, Galerigis
P.S. Kalau penasaran melihat jejak digital "lugu"-nya saya, silakan baca artikel-artikel tahun 2010-2012 di arsip blog ini. Banyak yang cringe dan bikin senyum sendiri, tapi itulah proses.
P.P.S. Penasaran gimana rasanya software yang lahir dari ribuan masukan pembaca blog ini? Silakan coba Galerigis Pro (7 hari Rp 50.000) di sini: https://galerigis.com/pro
